Ni Luh Sudi Armini: “Saat ini usaha mebel saya cukup baik dan saya iklas keluar dari PKH”

JEMBRANA [9/7/2019]~Namanya adalah Ni Luh Sudi Armini, salah satu KPM PKH di Desa Mendoyo Dauh Tukad , Kecamatan Mendoyo yang saat ini telah iklas mengundurkan diri dari statusnya sebagai peserta PKH yang ia sandang sejak tahun 2015.

Berani mencoba adalah salah satu prinsip dalam hidup Ni Luh Sudi Armini yang memiliki satu anak yang sedang duduk di bangku Sekolah Dasar dan seorang anak usia Balita ini~dalam membangun perekonomian keluarganya.

[Keterangan Foto: Ni Luh Sudi Armini bersama Pendamping Sosial PKH memegang surat pernyataan pengunduran diri dari PKH]

Sebelum menjadi peserta PKH, Ni Luh Sudi Armini bersama suaminya sebenarnya sudah memberanikan diri untuk mulai mencoba usaha yang bergerak di bidang mebel, namun usahanya cenderung sulit berkembang dan pernah hampir tidak bernafas.

Di tengah-tengah persaingan usaha mebel yang saat ini semakin ketat~Ni Luh Sudi Armini tidak pernah pantang mundur. Bersamaan dengan ia menerima bantuan PKH pada tahun 2015, ia kembali memberikan nafas baru pada usaha mebelnya melalui strategi yang berbeda yang ia dapatkan dari kegagalan sebelumnya.

Adapun yang ia perbaiki dalam eksistensi usahanya adalah pengayaan alat-alat pertukangan dan sistem penjualan yang saat ini memiliki banyak mitra kerja~baik bermitra dengan pemborong maupun dengan perusahaan-perusahaan yang relatif berkaitan dengan mebel. Hasilnya pun, saat ini Ni Luh Sudi Armini telah mampu membeli kendaraan roda empat untuk mendukung usaha mebelnya.

Melalui semangat juang tinggi yang diiringi oleh bantuan PKH dalam membangun perekonomian keluarganya selama ini, saat ini Ni Luh Sudi Armini menorehkan tinta hitam pada kertas putih yang berjudul “surat pernyataan” diri bahwa telah iklas untuk mengundurkan diri dari PKH.

Di hadapan Pendamping Sosial PKH dan bersama dengan suami tercinta, Ni Luh Sudi Armini mengungkapkan dengan rasa percaya diri bahwa “…saat ini usaha mebel saya sudah cukup baik dan saya iklas keluar dari PKH. Saat ini saya sudah siap untuk mandiri. Terimakasih PKH sudah pernah menjadi bagian penting dalam membantu ekonomi keluarga kami….” [HD].

KEMENTERIAN SOSIAL | PROGRAM KELUARGA HARAPAN | MERAIH KELUARGA SEJAHTERA | SUARA HARAPAN | SAYA IKLAS KELUAR DARI PKH |

Kategori~Graduasi Mandiri.

Ni Wayan Suriasih: “Saat ini saya sudah siap keluar dari PKH…!”

TABANAN [7/7/2019]~Ni Wayan Suriasih adalah salah satu KPM PKH yang memiliki semangat tinggi untuk sesegera mungkin keluar dari status KPM PKH. Ia sangat sadar bahwa status dirinya sebagai KPM PKH bukanlah menjadi impian ataupun kebanggaan di dalam kehidupannya.

Ni Wayan Suriasih yang beralamat di Desa Candi Kuning, Kecamatan Baturiti, Kabupaten Tabanan~Bali ini pun akhirnya memenuhi apa yang menjadi harapannya. Sebagai bukti formal, ia pun menorehkan tinta di atas kertas putih~pertanda ketulusan hatinya untuk keluar dari status KPM PKH.

Alasan yang menguatkan dirinya untuk keluar dari kepesertaan PKH yang di sandang sejak tahun 2015 itu, dikarenakan saat ini ia merasakan perekonomian keluarganya sudah lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya, walaupun ia tidak berani menjamin bahwa perekonomiannya akan tetap baik.

Ni Wayan Suriasih yang sebelumnya memiliki komponen pendidikan sebagai syarat kepesertaan di PKH ini menuturkan bahwa perekonomian keluarga yang semakin baik, tentu tidak datang secara tiba-tiba. Bersama PKH ia terus berjuang dari berbagai jenis usaha yang terkadang hasilnya pasang dan surut.

Dari berbagai jenis usaha yang dirintis oleh Ni Wayan Suriasih dan suaminya sejak tahun 2014, ia pun hingga saat ini cenderung menekuni usaha di bidang jual beli sayur-sayuran dan usaha di bidang pertanian tanaman bunga. Di samping itu pula, perkembangan ekonomi keluarganya dibantu pula oleh keahlian suaminya dibidang pertukangan.

[Keterangan Foto: Ni Wayan Suriasih menunjukkan jenis usaha di bidang pertanian tanaman bungan miliknya]

Ni Wayan Suriasih mengungkapkan bahwa “Saat ini saya sudah siap keluar dari PKH, saya malu kalau terlalu lama menjadi peserta PKH. Masih banyak masyarakat yang layak untuk menerima PKH. Kita harus tahu diri dan jangan membohongi diri sendiri, kalau sudah mampu katakan sudah mampu…”.

Tidak lupa pula ia mengucapkan banyak terimakasih atas peranan Pendamping Sosial dalam memfasilitasi segala persoalan yang sering ia keluhkan selama menjadi KPM PKH. Menurutnya, PKH memang salah satu program pemerintah yang memang benar-benar menyentuh kebutuhan masyarakat [HD].

KEMENTERIAN SOSIAL RI | PROGRAM KELUARGA HARAPAN | MERAIH KELUARGA SEJAHTERA | SAYA SIAP KELUAR DARI PKH |

Kategori~Graduasi Mandiri

“…Astungkara! Anak Saya Bisa Kuliah, karena PKH”

Jembrana [12/6/2019]~Secara formalistik, untuk dapat menerima bantuan PKH melalui syarat yang termasuk di dalam komponen pendidikan~bantuan PKH hanya dapat diberikan pada kategori anak yang sedang atau masih duduk di bangku Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama dan Sekolah Menengah Atas. Artinya PKH dalam hal ini tidak dapat memfasilitasi lebih lanjut anak KPM yang ingin atau sedang melanjutkan pendidikan di Perguruan Tinggi.

Berdasarkan pengertian itu, salah satu KPM PKH bernama Ibu Ni Luh Norniasih~yang beralamat di Desa Melaya, Kec. Melaya~Jembrana ini telah memperhitungkan sejak dini persiapan untuk kelanjutan pendidikan anaknya ke Perguruan Tinggi.

Ibu Ni Luh Norniasih yang pekerjaannya sebagai buruh harian lepas dan telah menjadi KPM PKH sejak tahun 2015 ini mengungkapkan bahwa ia telah menyadari keinginan anaknya untuk melanjutkan pendidikan di Perguruan Tinggi sejak awal, sehingga persiapannya pun harus dilakukan lebih dini.

Lebih lanjut ia menuturkan bahwa “…semenjak anak saya duduk di bangku SMA kelas 1, saat itu saya sudah mulai mempersiapkan biaya kuliahnya dengan cara menabung sedikit demi sedikit, bantuan PKH saya fokuskan untuk kebutuhan sekolahnya. Sedangkan upah dari hasil pekerjaan saya bersama suami sebagian saya tabung. Dari tabungan itulah, saya saat ini siap untuk menguliahkan anak saya. Hal yang paling saya syukuri adalah, astungkara ada PKH. Berkat PKH saya bisa menabung dan bisa menguliahkan anak saya di Universitas Terbuka….”.

[Keterangan Foto: Ibu Ni Luh Norniasih bersama Putu Juliantini di sela-sela berangkat kuliah di Universitas Terbuka]

Demikian pula yang disampaikan oleh anak Ibu Ni Luh Norniasih, yakni Putu Juliantini yang merupakan sulung dari empat bersaudara dan yang memiliki cita-cita menjadi seorang pengusaha. Di sela-sela persiapannya berangkat kuliah, ia mengungkapkan rasa terimakasihnya pada PKH yang selama ini membantu mewujudkan mimpinya untuk kuliah dengan mengambil jurusan manajemen umum.

Selain itu, Putu Juliantini merasa sangat terbantu tidak saja karena bantuan PKH. Ia juga merasa sangat terbantu sekali dengan keberadaan Pendamping Sosial yang selama persiapan pendaftaran di Universitas Terbuka selalu di dukung secara moral, bahkan difasilitasi secara teknis.

Selain Putu Juliantini memiliki semangat yang tinggi dalam menuntut ilmu di Perguruan Tinggi, ia pun anak yang berprestasi. Salah satu prestasinya diraih dalam bidang olah raga futsal putri saat duduk di bangku Sekolah Menengah Atas. Ia bersama teman-temannya pernah meraih juara 1 tingkat Kecamatan pada tahun 2016 dan juara 2 di tingkat Kabupaten pada tahun 2018 [HD].

KEMENTERIAN SOSIAL RI | PROGRAM KELUARGA HARAPAN | MERAIH KELUARGA SEJAHTERA | BERKAT PKH BISA KULIAH

Kategori~Anak PKH Kuliah

Jro Subagia Mengeluarkan Diri dari PKH, Karena Ingin Mandiri!

Bangli [11/6/2019]~ “Saya mengeluarkan diri dari PKH atas keinginan saya sendiri, karena saya ingin mandiri dan tidak mau terus menerus menggantungkan diri pada bantuan pemerintah….” demikian ungkap Jro Subagia yang merupakan salah satu KPM PKH yang beralamat di Desa Songan, Kecamatan Kintamani~Bangli.

Jro Subagia yang merupakan ayah dari tiga orang anak ini, memiliki prinsip hidup yang pantang menyerah~terutama dalam niatnya mengembangkan perekonomian keluarga yang selama ini dirasakannya carut marut.

Bersama bantuan sosial PKH yang ia terima sejak tahun 2013, Jro Subagia secara perlahan-lahan terus menerus bangkit dari keterpurukan. Berawal menjadi tukang ojek dan kegemarannya mengutak atik kendaraan bermotor, akhirnya Jro Subagia memberanikan diri untuk membuka usaha jasa servis motor.

Berdasarkan penuturan I Wayan Suganda yang merupakan Pendamping Sosial di Desa Songan, Jro Subagia sangat baik dan terampil dalam memanajemen perekonomian keluarganya. Terutama dalam hal pemanfaatan bantuan sosial PKH yang ia terima setiap tiga bulannya, untuk selalu difokuskan kepada biaya sekolah anaknya.

[Keterangan Foto: Pendamping Sosial bersama supervisor berkunjung ke rumah Jro Subagia untuk memberikan semangat dalam mengembangkan usahanya]

Terlebih, Jro Subagia merupakan KPM yang selalu aktif dalam mengikuti pertemuan kelompok yang di dalamnya di isi pengembangan dalam hal peningkatan kemampuan keluarga tentang berbagai aspek yang secara strategis dibutuhkan bagi pengembangan sumberdaya manusia maupun pengembangan ekonomi keluarga.

Lebih lanjut Wayan Suganda menjelaskan “…sedangkan untuk mengawali modal usaha, Jro Subagia memberanikan diri untuk berhutang dan berangkat dari usaha jasa servis motor yang semakin baik perkembangannya, Jro Subagia pun melibatkan istrinya untuk ikut membuka usaha jual beli sembako yang lokasinya berdampingan….”

Ibarat pepatah “Pucuk di cinta ulam pun tiba”, melalui hasil usaha yang dijalankan, Jro Subagia pun merasa dirinya telah berkecukupan dalam hal perekonomian keluarganya. Itulah sebabnya di akhir tahun 2017, dengan rasa percaya diri dan penuh keiklasan~Jro Subagia akhirnya menyampaikan keinginannya kepada Pendamping Sosial untuk mengeluarkan diri dari kepesertaan PKH.

Atas dasar semangat graduasi mandiri Jro Subagia, di tahun 2018 ia terpilih untuk memenuhi undangan bersama KPM yang telah graduasi mandiri lainnya di seluruh Kabupaten di Bali~untuk hadir ke Jakarta dalam rangka meramaikan acara Keluarga Sejahtera Indonesia yang diselenggarakan oleh Kementerian Sosial Republik Indonesia [HD].

KEMENTERIAN SOSIAL RI | PROGRAM KELUARGA HARAPAN | MERAIH KELUARGA SEJAHTERA | JRO SUBAGIA INGIN MANDIRI

Katagori~Graduasi Mandiri

P2K2 dalam PKH, Ibarat Perangkat Lunak dalam Komputer

Eksistensi dari Pertemuan Peningkatan Kemampuan Keluarga [P2K2] yang lahir di tengah-tengah PKH tentu tidak hanya sebatas kegiatan pendukung yang bersifat formalistik semata. Pada prinsipnya P2K2 terlahir adalah sebagai bagian yang integral bagi PKH.

Jika diibaratkan sebuah komputer, kelahiran PKH sebagai sebuah program bantuan sosial yang memberikan sejumlah nilai rupiah kepada keluarga penerima manfaat [KPM] adalah perangkat keras [hardware] komputer. Maka sebaliknya, kehadiran P2K2 melengkapi sebagai perangkat lunak [software] komputer.

Kedua perangkat ini sejatinya tidak dapat dipisahkan satu sama lainnya~jika seseorang berharap agar komputer dapat dioperasikan dengan baik. Itulah sebabnya, kedua perangkat ini adalah satu kesatuan yang sejatinya utuh dalam kerangka membangun cita-cita luhur meraih keluarga yang sejahtera, sehingga kelak dapat memutus rantai “setan kemiskinan”.

[Keterangan Foto: Salah satu kegiatan pelaksanaan P2K2 di Kabupaten Jembrana yang di dampingi oleh Babinkantibmas]

Bersama itulah, P2K2 dalam arti sebagai perangkat lunak harus mampu menjadi spirit pergerakan dibidang pembangunan sumberdaya manusia KPM yang selama ini dianggap masyarakat terbelakang dalam berbagai hal. Pembangunan sumberdaya manusia KPM menjadi sangat penting dalam P2K2, karena tidak saja menyentuh tentang hal-hal terkait bagaimana cara memanfaatkan bantuan sosial yang diterima dalam PKH.

P2K2 juga memiliki cita-cita luhur untuk membuka wawasan pengetahuan KPM dalam berbagai hal yang sifatnya prinsip. P2K2 memiliki peran strategis dalam mengoptimalkan pengertian dan pemahaman KPM untuk melihat arti penting keberadaan dirinya sendiri sebagai ciptaan Tuhan di atas bumi, sebagai manusia, keluarga, masyarakat dan bagian dari kemajuan pembangunan Bangsa Indonesia.

Berjalan lurus dari semua itu, hal yang paling fundamental dalam pembangunan sumberdaya manusia dalam pelaksanaan P2K2 sejatinya adalah menyadarkan KPM untuk mengubur jauh-jauh “mental miskin” yang selama ini disematkan di dalam diri KPM oleh KPM sendiri.

KPM hendaknya dapat terbangun secara perlahan-lahan dari dogma yang muncul dari dirinya sendiri terhadap status keadaan miskin yang dimiliki selama ini. Hal ini menjadi serius, karena tanpa adanya “ramuan” yang hebat~”mental miskin” ini pun akan menjadi penyakit yang kronis di dalam diri KPM.

KPM akan selalu merasa terkungkung dalam sebuah ruang kemiskinan dan sulit menemukan jalan keluar. Inilah yang kemudian kelak disebut sebagai “kemiskinan kultular” yang memiliki makna~seolah-olah kemiskinan itu menjadi bagian dari sebuah kebudayaan yang ada disekeliling KPM.

Budaya miskin semacam ini biasanya akan tampak dalam bentuk tidak suka berusaha, malas, masa bodoh dan manja dengan anugerah alam. Orang-orang yang dibesarkan dalam budaya kemiskinan ini akan memiliki ciri-ciri kepribadian antara lain: merasa diri tidak berguna, penuh dengan keputusasaan, merasa inferior, sangat dependen terhadap orang lain.

Orang miskin dalam lingkup ini juga memiliki kepribadian yang tidak kuat, kurang bisa mengontrol diri, mudah implusif dan sangat berorientasi pada masa kini tanpa memikirkan masa depan. Sikap semacam inilah yang cenderung akan membuat KPM lebih susah dalam membuat sebuah perencanaan yang baik bagi masa depan keluarganya.

Melalui pelaksanaan P2K2 yang di emban oleh ketangguhan Pendamping Sosial, sekiranya menjadi ramuan yang dapat menetralisir “penyakit mental miskin” tersebut. Seperti halnya kayu kering yang sering digosok, maka ia pun akan mengeluarkan api. Hal ini dapat dijadikan makna filosofi, bahwa untuk menyukseskan dan menjadikan eksistensi P2K2 berhasil dalam membangun semangat juang KPM PKH dalam merah kesejahteraan keluarga, tentu dibutuhkan pelaksanaan yang secara terus menerus.

Selain pelaksanaan yang secara terus menerus, tentu pula harus dibarengi dengan strategi serta pengembangan modal intelektual secara struktural maupun profesional dalam rumah besar PKH, sehingga kompleksitas permasalahan KPM dapat selalu di antisipasi [HD].

KEMENTERIAN SOSIAL RI | PROGRAM KELUARGA HARAPAN | MERAIH KELUARGA SEJAHTERA | P2K2 SEBAGAI PERANGKAT LUNAK PKH

Kategori~Artikel

Yoga, Anak Disabilitas yang Tetap Semangat Belajar

Jembrana [3/6/2019]~ “Keterbatasan fisik bukanlah alasan untuk meluluhlantakkan semangat belajar, karena belajar adalah hak setiap orang”, mungkin kalimat itulah yang dapat dijadikan untuk mengidentifikasi gairah belajar I Komang Bayu Yoga Arsana.

[Keterangan Foto: Pendamping Sosial mengunjungi Yoga di SLBN 1 Jembrana]

Yoga, demikian biasa ia dipanggil oleh teman-temannya~adalah anak disabilitas yang menerima bantuan PKH sejak tahun 2018. Walaupun ia menyadari bahwa kondisi fisiknya tidak sempurna, Yoga tidak pernah menjadikan hal itu sebagai alasan untuk selalu mengeluh dalam hidupnya.

Semenjak menjadi bagian dari keluarga PKH di Desa Melaya, Kec. Melaya~Jembrana dan atas saran dari berbagai pihak, Yoga yang sebelumnya bersekolah di SDN 7 Melaya ini pun akhirnya dengan penuh semangat mulai bersekolah di SLBN 1 Jembrana.

Menurut Komang Yoni Arsini selaku orang tua mengungkapkan bahwa, dipindahkannya Yoga ke SLBN 1 Jembrana agar ia mendapatkan fasilitas dan Sumber Daya Manusia yang relevan dalam proses belajarnya. Mengingat selama ini, Yoga bersekolah di SDN 7 Melaya hanya sebatas memenuhi keinginannya dalam belajar saja.

Tidak hanya semangat belajar yang tinggi, menurut Ketut Budi Pertiaksa yang merupakan salah seorang gurunya di SLBN 1 Jembrana~Yoga yang merupakan anak ke tiga dari empat bersaudara ini pun memiliki modal kemampuan orator yang sangat baik di dalam dirinya.

Menurut Ketut Budi Pertiaksa~hal itu dapat terjadi, karena berdasarkan hasil identifikasi dan asesmen~Yoga hanya cenderung terhambat di bidang gerak saja atau yang dikenal dengan tuna daksa. Sedangkan jika dilihat dari intelegensi, Yoga sangat normal.

Bersama kemampuan oratornya itu, tidak salah jika Yoga memiliki cita-cita mulia, yakni kelak ia ingin menjadi seorang motivator yang profesional dan dapat membangkitkan semangat bagi anak-anak disabilitas seperti dirinya melalui youtube.

Bahkan hal yang paling menyentuh hati adalah ketika ia mengatakan dengan penuh gairah “…saya juga ingin menjadi pengusaha yang kaya raya dan kelak kekayaan saya itu akan saya gunakan untuk membantu anak-anak disabilitas seperti saya….” [HD].

KEMENTERIAN SOSIAL RI |PROGRAM KELUARGA HARAPAN | MERAIH KELUARGA SEJAHTERA | YOGA

Kreativitas dalam Memanfaatkan Bantuan Sosial PKH

JEMBRANA~[1/6/2019] Seperti yang menjadi salah satu tujuan dalam PKH yakni meningkatkan kondisi sosial ekonomi KPM, sehingga kesadaran untuk memanfaatkan bantuan sosial PKH ke arah yang baik dan benar haruslah menjadi prinsip yang tidak bisa ditawar-tawar oleh seluruh KPM PKH.

Melalui kesadaran pemanfaatan bantuan sosial PKH dengan baik dan benar, maka secara tidak langsung akan memunculkan ide-ide kreatif di dalam diri KPM. Pentingnya ide-ide kreatif dalam pemanfaatan bantuan sosial PKH oleh KPM adalah wujud dari kemauan dan kemampuan diri untuk menciptakan solusi dalam menghadapi permasalahan.

Melalui kreativitas KPM PKH yang tinggi, maka KPM PKH akan dapat melakukan pendekatan secara bervariasi dan memiliki bermacam-macam kemungkinan penyelesaian terhadap suatu persoalan, terutama persoalan ekonomi.

[Keterangan Foto: Pendamping Sosial berkunjung ke rumah Ibu Hartatik untuk memberikan motivasi dalam usaha yang sedang dirintisnya]

Seperti yang dilakukan Ibu Hartatik ~salah satu KPM PKH di Desa Melaya, Kecamatan Melaya, Kabupaten Jembrana~Bali. Ibu Hartatik sebagai ibu rumah tangga yang menerima bantuan sosial PKH semenjak tahun 2015 sangat menyadari bahwa pentingnya kesadaran dalam memanfaatkan bantuan sosial PKH dengan baik dan benar.

Hal ini semakin realistis ketika Ibu Hartatik mencoba memanfaatkan bantuan sosial PKH melalui kreativitasnya pada usaha catering atau wirausaha yang melayani pemesanan berbagai macam masakan. Demikian juga, selain usaha jasa catering~Ibu Hartatik juga memanfaatkan bantuan sosial PKH secara teratur untuk memulai usaha jual beli kain batik.

Ibu Hartatik mengatakan bahwa ide kreativitasnya muncul untuk mulai membuka usaha dibidang jasa catering dan jual beli kain batik, saat ia mulai menyadari bahwa bantuan sosial PKH bersifat tidak selamanya. Ia sadar bahwa suatu saat nanti, bantuan sosial PKH pasti akan meninggalkannya.

Ibu Hartatik pun mengakui bahwa usaha yang sedang ia rintis dapat membantu kebutuhan rumah tangga yang bersifat primer maupun sekunder, terutama dalam memenuhi kebutuhan pendidikan anaknya. Walaupun demikian, Ibu Hartatik mengakui bahwa usaha yang sedang dirintisnya sering menemui situasi dan kondisi pasang surut.

Namun Ibu Hartatik sampai saat ini masih tetap kokoh pendiriannya dalam mengembangkan usaha catering dan jual beli kain batik. Bahkan melalui usaha catering dan jual beli kain batik, saat ini Ibu Hartatik dapat menambah tabungannya secara perlahan-lahan.

Bersama dengan hal itu, selain kesadaran Ibu Hartatik yang memiliki dua orang anak ini~memandang bahwa bantuan sosial PKH bersifat tidak selamanya sebagai dasar terbangunnya kreativitas dalam merintis usahanya. Kesadarannya pun ia mulai juga saat mengikuti pelaksanaan Pertemuan Peningkatan Kemampuan Keluarga [P2K2] yang difasilitasi oleh Pendamping Sosial.

Melalui kegiatan P2K2, Ibu Hartatik mengaku sering melakukan intropeksi diri dalam memahami kebutuhan dan keinginan di dalam hidup sehari-hari. Ibu Hartatik mengungkapkan bahwa kehadiran pelaksanaan P2K2 sangat berarti bagi perubahan cara berpikir dan berperilaku dalam memberikan arti penting bagi banyak hal, terutama dalam memahami perbedaan keinginan dan kebutuhan hidup secara ekonomi [GB].

KEMENTERIAN SOSIAL RI | PROGRAM KELUARGA HARAPAN | MERAIH KELUARGA SEJAHTERA | KREATIVITAS PEMANFAATAN BANTUAN SOSIAL PKH

Kategori~KPM Kreatif

Mendapat PKH, Semakin Semangat Bekerja

JEMBRANA [28/5/2019] ~Nur Fahadah adalah salah satu Keluarga Penerima Manfaat [KPM] Program Keluarga Harapan [PKH] yang beralamat di Desa Melaya, Kec. Melaya~Jembrana ini mengaku bahwa semenjak menerima bantuan PKH pada tahun 2015, ia tidak pernah sekalipun berpikir untuk mengandalkan bantuan PKH.

Melalui sosialisasi yang sering dilakukan oleh Pendamping Sosial, Ia sangat menyadari bahwa bantuan PKH adalah bantuan yang secara kusus dipertanggungjawabkan untuk digunakan pada komponen PKH yang dimilikinya~yakni untuk membantu meringankan biaya sekolah anak-anaknya.

Nur Fahadah mengungkapkan “…dan yang paling penting, walaupun saya mendapat bantuan PKH, bukan berarti saya harus bermalas-malasan. Malah sebaliknya, mendapat bantuan PKH saya semakin semangat dengan usaha menjahit saya….”.

Nur Fahadah yang memiliki dua orang anak ini pun merasa sangat terbantu sekali melalui keberadaan PKH. Jika sebelum adanya PKH, ia sering kesulitan dalam mengatur keuangan. Mengingat hasil dari usaha menjahit, ia harus gunakan dalam berbagai kebutuhan, termasuk kebutuhan biaya sekolah anaknya.

Semenjak hadirnya PKH, ia merasa lebih ringan dalam mengatur keuangan keluarga~belum lagi bantuan yang diberikan tidak saja berupa uang, namun bantuan juga diberikan dalam bentuk pertemuan peningkatan kemampuan keluarga. Kegiatan pertemuan ini membahas berbagai hal penting bagi keluarga yang difasilitasi oleh Pendamping Sosial setiap bulannya. Termasuk dalam hal pengelolaan keuangan keluarga, tuturnya.

PKH menurutnya dianggap program yang sangat menyentuh kebutuhan masyarakat. Oleh karenanya ia berpesan kepada KPM PKH lainnya agar memanfaatkan bantuan PKH sesuai dengan komponen dalam keluarga dan rajinlah hadir dalam setiap pertemuan kelompok atau pertemuan peningkatan kemampuan keluarga. Mengingat program ini tidaklah kita terima selamanya [HD].

KEMENTERIAN SOSIAL RI | PROGRAM KELUARGA HARAPAN | MERAIH KELUARGA SEJAHTERA | SEMAKIN SEMANGAT BEKERJA

Kategori~KPM Kreatif

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai